Wednesday, December 1, 2010

Vanda tricolor, How are you today?

Sebagai bekas pencinta alam yang pergelutannya di alam liar (bekas, krn sudah jarang sekali), sebagai mantan mahasiswa biologi yang konsentrasinya lingkungan, sebagai pegawai negeri yang bekerja di badan lingkungan dan terutama sebagai (Insya Allah) warga bumi yang peduli dengan “ibunya”, konservasi sudah barang tentu bagian yang tak terpisahkan dari takdir saya (Prett ngGambleh!!).
Apalagi jika urusannya sudah ke tanaman, terutama bunga anggrek.Rasanya pengen nangis waktu Gunung Merapi meletus Oktober 2010 lalu.Bukannya saya tidak turut berbelasungkawa dengan saudara – saudara yang menjadi korban, saya turut. Tapi itu lho, si vanda tali kolor endemik merapi, habitatnya pasti rusak berat dan matilah si totol cantik itu.Mungkin saja hanya sedikit orang yang aware dengan kehilangan ini.Masih ingat di kepala saya Pak Heri Sujadmiko, dosen seminar/skripsi saya, betapa beliaunya sangat antusias dalam konservasi anggrek ini. Memang sih, banyak petani anggrek dan hobiis yang memelihara jenis ini, tapi kan tetap saja bunga ini nyaris punah di alam sejatinya. Semoga relokasi dan rehabilitasi anggrek Vanda tricolor ini di lereng selatan Gunung Merapi dapat segera terlaksana.

Vanda tricolor
Rumah paranet 1

Rumah paranet 2
Masih Rumah Paranet 2
Beliau ini bukan pemiliknya loh (#hehehe padahal capture-nya udah kayak tahu-menahu banget ya) 

Nah, ini baru. Pak Musimin namanya. Ketua Petani Konservasi Anggrek Merapi


Matching banget dengan warna bunganya hehehehe
























Thursday, November 25, 2010

sekolah di rumah

"..memanfaatkan seluruh dunia sebagai ruang kelas..."
 Pertama saya lihat buku ini saya langsung tertarik dengan tagline-nya. Hmm..pas banget dengan prinsip saya dan sumi tentang bagaimana mengenalkan dunia pada anak-anak. Saya buka - buka bukunya, hmm bisa dibilang sangat mencerahkan. Di dalamnya dibahas mengenai pengertian pendidikan tanpa sekolah, ketakutan para orang tua sekolahdirumah, hingga tips-tips mengajarkan subjek tertentu pada anak : membaca & menulis, matematika, sains, sejarah dan seni, juga dinamika dalam menjalankan aktivitas sekolahdirumah. 
Meskipun begitu, ada beberapa bagian dari buku ini yang menurut saya membuat tidak nyaman. Yaitu, dari segi bahasa/kalimat. Karena merupakan buku terjemahan, saya harus pandai - pandai mencerna alur berpikir si penulis. Ya, tata bahasa memang menjadi kendala pada setiap buku terjemahan. Kalau kita terbilang sering membaca buku terjemahan, pasti cepat beradaptasi. Tapi saya kan enggak, jadi agak kesulitan. 
Overall, buku ini tetap layak dibaca. Khususnya buat para orang tua yang ingin memberikan hal yang terbaik untuk anak-anaknya.