Monday, April 30, 2012

Mengajari Anak Belajar atau Mengajari Anak Cara Belajar??

Seiring dengan kemajuan cara berpikir masyarakat Indonesia, didukung dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, pendidikan alternatif di luar sekolah negeri menjadi pilihan banyak orang tua yang ingin memberikan pendidikan yang berkualitas bagi buah hatinya. Bukan berarti sekolah negeri tidak cukup mumpuni sebagai penyedia layanan pendidikan bagi siswa lho karena banyak juga sekolah negeri yang berkualitas hanya saja jumlahnya segelintir sehingga tidak mampu menampung semua calon siswa. Akibatnya, sekolah swasta berlomba – lomba untuk menarik minat para orang tua calon siswa dengan memperkenalkan metode pembelajaran yang inovatif dengan fasilitas yang mendukung.  Metode pembelajaran berbasiskan alam misalnya. Di Jogja sendiri ada beberapa sekolah yang semacam, yang saya tahu ada SD Salam yang berada di Desa Seni Bugisan dan SDIT Nurul Islam di daerah Gamping.
Fenomena ini menarik untuk dicermati. Di satu sisi, sekolah alam membantu orang tua untuk mendidik putra – putrinya dengan metode pendidikan berbasis alam. Di sisi lain, termasuk saya, melihat sebaliknya. Saya tinggal di Yogyakarta, sebagai Kota Pelajar, Kota Budaya, Kota Wisata tentu tak sulit untuk mendidik anak – anak saya dengan pendidikan ecosocial awareness (bener nggak istilahnya) tanpa perlu masuk sekolah alam atau model sekolah yang lain. Sejak balita, saya dan papa nya sering mengajak anak kami mengeksplor keindahan alam Yogyakarta dan sekitarnya. Pada satu kesempatan, kami berjalan – jalan ke Kaliadem melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh letusan gunung merapi dan mengambil sampel abu untuk dipelajari di rumah. Pada kesempatan lain, kami jalan – jalan ke kawasan karst di Gunungkidul, melihat orang – orang belajar panjat tebing, masuk goa dan bermain di pantai sambil mengumpulkan aneka cangkang hewan laut. Ke Pantai Parangtritis tentu membosankan jika hanya main – main di pantainya. Sudah banyak orang tahu. Kami mengeksplor area di dekat tebing di sebelah timur pantai, atau ala-ala manasik haji i gumuk pasir. Kapan2 ikutan mencoba olahraga sandboarding di gumuk pasir bersama Om Sidik dkk dari Mapagama.
Selain wisata alam, kami juga sering mampir di Gembira Loka Zoo, berkeliaran di Taman Pintar (#entah main digeung oval or not, at least main di kolam water dance yang gratisan),, jedal – jedul di sekitar Kraton Jogja sambil menelusuri jejak kesultanan Mataram, menawar kandang kucing dan bunga anggrek incaran saya di PASTY atau pura – pura jadi arkeologis menginventarisasi candi – candi yang ada di Yogya, mulai dari Candi Prambanan yang terkenal sampai Candi Ijo yang terisolir di atas punggungan bukit. Di lain waktu, kami hanya berkeliaran di dekat rumah melihat orang membuat batik dengan pewarna alami, dan ikut duduk bersama mereka membuat batik sendiri.
Ya, untuk sekarang mungkin anak saya belum paham tentang mempelajari itu semua, justru kami kedua orang tuanya lah yang kembali seperti anak sekolahan. Tapi itulah yang kami harapkan, anak – anak kami ikut merasakan passion belajar kedua orang tuanya, tidak malu menyadari dirinya bodoh dan menemukan betapa menyenangkannya berhasil mengetahui sesuatu dari semula tidak tahu.” Ohhh..selama ini aku baru tahu sekarang!.” Seharusnya semangat belajar itu ditumbuhkan dulu disanubari, baru mereka akan siap untuk belajar. Kami tidak pernah memaksa anak kami belajar membaca, menulis, menghitung atau menggambar. Biarkan rasa itu tumbuh sendiri, penasaran, karena dengan itu mereka akan bersungguh – sungguh untuk melakukannya. Saat semangat itu sudah tumbuh berkembang dalam diri mereka.

"By the way, it's Rara's 3rd Anniversary.Yippie"

No comments:

Post a Comment

Leave Nothing But Comment