Thursday, September 13, 2012

Timoho, Adakah yang Tahu Pohon Itu?

Provinsi DIY baru saja dikukuhkan keistimewaannya melalui RUUK. Waktu lagi rame – ramenya “Yogya siap referendum” karena RUUK yang tak kunjung terselesaikan, saya  tergelitik untuk mengeksplorasi sejarah budaya dari provinsi yang dipimpin oleh Sultan HB X ini. Mulai dari segi politiknya, budayanya, religinya, hingga flora dan faunanya. Tentang bagaimana pengorbaan sultan DIY untuk bergabung dengan NKRI, kontribusinya terhadap keteguhan RI yang waktu itu limbung karena ibukotanya direbut Belanda, juga ciri khasnya sebagai kota pelajar, kota budaya dan kota wisata. Dari sisi flora fauna, setahu saya sih DIY memiliki flora khas yang bernama kepel (S. burahol) dan fauna perkutut. Kepel adalah buah sajian untuk para raja jaman dahulu. Saya menanamnya di rumah. Tumbuhnya lama banget. Akhirnya mati karena kekeringan. Hikksss…saya ingin menanamnya lagi tapi nantilah  sembari hunting tanaman khas DIY yang lain.
Selain kepel, ada juga kelapa gading, yang merupakan flora identitas  Kota Yogyakarta. Ketika saya mempelajari  asal-usul Yogyakarta, saya kenal dengan nama wilayah seperti Timoho, Bayeman,Karanggayam. Ternyata nama – nama daerah di atas berasal dari nama tumbuhan lho, baru tahu saya. Kalo bayam dan gayam, saya tahu. Bayam itu kan yang sering dibuat jangan bening. Bayam ini kalo di Eropa/Amerika dinamai amaranth (Amaranthus sp.), sering untuk tanaman hias (mungkin mereka juga nggak tahu kalo bayam itu edible). FYI, Amaranth berbeda spinach lho karena spinach ini mengacu pada tumbuhan yang lain, meskipun masih satu family Amaranthaceae.Nama latin spinach adalah Spinacia oleracea.
Sedangkan gayam (inocarpus fagiferus), waktu saya kecil dulu belakang rumah saya banyak ditumbuhi gayam. Gayam memiliki kulit buah yang keras, seperti batok. Daging buahnya untuk dapat dikonsumsi harus direbus dulu (atau dikukus) dengan garam agar enak dimakan. Rasanya nutty.
Tapi kalo Timoho? Adakah yang tahu pohon itu? Saya sendiri sering lewat daerah itu tapi nggak pernah lihat pohon timoho. Ya iyalah, hehe, wong belum tahu wujud pohonnya seperti apa. Saya search di google, yahoo sampe bing jarang banget yang bahas pohon ini, meskipun secara garis besar kebotaniannya ada yang mengulas. Saya itu pengen tahu ada nggak sih warga Yogyakarta yang aware tentang si Kleinhovia ini. Akhirnya pencarian saya tentang pohon timoho ini tersingkirkan oleh kesibukan saya yang lain. Terlupakan sejenak.
Kleinhovia hospita aka timoho, sepertinya saya pernah lihat (pic. from garden-frenzy.blogspot.com)
Sampai akhirnya saat saya iseng ikut acara shooting BLH di TVRI. Waktu itu narasumbernya Pak Bambang W.I, Kabid Konservasi & Dalrusnya BLH. Hehehe saya juga ikutan nampang lho, di pembukaan acaranya. Beliau membicarakan tentang krisis kepedulian masyarakat yogya pada flora fauna khas DIY. Salah satunya ya Timoho ini. Lantas beliau menjelaskan deskripsi dari pohon timoho tersebut. Saya jadi semangat buat hunting tanaman itu lagi. Selain timoho, saya juga mempelajari tanaman khas DIY yang lain, baik yang langka ataupun enggak. Kalau ada bibitnya mau coba tanam deh di halaman rumah saya.
List tanamannya ini :
  1. Timoho
  2. Kelapa gading (identitas kota)
  3. Kepel (identitas DIY)
  4. Apel beludru (ada pohonnya di rumah Pak Jurukunci Tebing Bedoyo)
  5. Salak pondoh (identitas Sleman)
  6. Nangka (Arthocarpus heterophyllus) dari Gunungkidul
  7. Manggis kaligesing (Identitas Kulon Progo), khusus yang ini kayaknya nggak bias nanemnya
  8. Manilkara kauki aka sawo kecik (Bantul)



1 comment:

  1. Ada sebatang pohon Timoho yang cukup besar dan rindang, di kawasan Kotabaru< Jogja. Tepatnya di Jl. Faridan M. Noto, sebelah selatan Mirota. Tempat itu saat ini dipakai oleh SSCI (Siswa Siswi Cerdas Intersolusi), yaitu tempat les siswa-siswi SD dan SMP. Silakan diperiksa.

    ReplyDelete

Leave Nothing But Comment