Tuesday, January 29, 2013

Mars Manga VS Drama Series

Akhir - akhir ini saya nonton drama seri berjudul Mars, dimainkan oleh Vic dan Barbie. Actually, saya pernah nonton film ini beberapa tahun yang lalu, mungkin sekitar tahun 2005an ya disiarkan di Indosiar. Tapi waktu itu aku nggak intense sih nontonnya.Kadang nonton kadang enggak,jadi jalan ceritanya yang rumit nggak saya pahami.
Waktu saya kuliah dan tinggal di Yogya, jadi kebiasaan baca komik karena di sini Taman Bacaan bertebaran dimana - mana. Di saat itulah saya mulai mengenal manga Mars. OOh, ternyata ini diadaptasi dari komik ya just like BBF,Meteor Garden dari Hana Yori Dango. Tapi jujur, saya nggak suka manga/drama tersebut. Terlalu lovey-dovey. Saya lebih suka story yang lebih mendekati reality, dimana kehidupan seseorang yang penuh dengan harapan, ambisi, dosa masa lalu, sisi manusiawi yang lemah. Romantisme hanya sebagai bumbu saja, bukan menu utama. Jikalau pun jalan cerita bertema love story, biarkan cinta lah yang menunjukkan jalan akan pertanyaan manusia tentang dirinya. Cinta buat saya berbeda dengan romantisme.
Dan saya temukan itu di cerita Mars. Saya menontonnya lagi baru - baru ini, beli dvd bajakan di Jl.Mataram. Feel sorry & guilty to do that. Karena nggak ada jalan lain lagi, ga nemu dvd aslinya baik di rentalan atau toko. Oke kembali ke laptop.
Jalan cerita utamanya adalah tentang sesosok anak muda bernama Rei (atau Ling) yang digambarkan atletis, tampan, dan naughty. Tipe yang suka mempermainkan hati perempuan dan menganggap cinta hanyalah permainan sex. Dia bertemu dengan Kira (=Qi Luo). Gadis pendiam, senang melukis dan boyfobia. Kira sangat membenci laki-laki seperti Rei, tentu saja. Jenis laki-laki yang sangat ingin dia jauhi. Tetapi apa daya, takdir mempertemukan mereka dengan caranya sendiri. Melalui lukisan ibu dan anak.
Singkat cerita, Rei dan Kira menjadi sepasang kekasih, yang dengan segala kelemahan mereka sebagai manusia menghadapi tantangan yang datang bertubi-tubi. Masa lalu Rei yang kelam dan trauma Qi Luo yang pelan - pelan membuka mata mereka untuk saling memahami satu sama lain. Juga bagaimana mereka menggapai impiannya masing-masing, Rei ingin menjadi seorang pebalap motor dan Kira yang ingin menjadi seniman lukis.
http://2.bp.blogspot.com/-449op9YDlpk/TvfdrQMPQsI/AAAAAAAACAw/t2JWpl_vHXU/s1600/5.jpg       VS        Mars Manga
Nah sekarang saya mau mengeksekusi kedua versi, manga dan drama.
1. Dari segi cast/peran
Hmm tentu saja dua-duanya dapat memuaskan mata penikmatnya. Kalo manga, penggambaran Rei lebih boyish (gondrong tanpa poni), tinggi (sangat!) dan kurus. Dengan mata yang besar dan bulu mata panjang-panjang, aduh sepertinya agak merusak citranya ya, tetapi tak apalah. Nah kalo versi drama Ling yang diperankan Vic cukup mewakili lah. Rambut gondrong, mata nakal, tinggi tapi proporsional dan berisi. Memang tidak sebegitu berisi tapi kalo dibandingkan perannya sebagai Lei di MG, patutlah saya beri jempol dua.Karena menurut saya, untuk membawa motor sebesar itu laki-laki haruslah berotot tetapi tidak besar. Nah kalo Rei, menurut saya is too tiny. Kalo buat saya, satu-satunya fail si Ling adalah poni. Saya nggak suka cowo senakal itu berponi.

 http://i.dramacrazy.net/zhouyumin27qg.jpg     VS     http://i21.mangareader.net/mars/9/mars-1681284.jpg

Saya boleh curhat,nggak, sumi punya ciri - ciri Rei + Ling. Cucok banget buat meranin tokoh itu. Sayangnya sumi ini berkulit coklat. Mungkin seru kali ya, namanya juga Mars. Dimana - mana dewa perang itu kan coklat (coklat adalah warna laki-laki) bukan putih (iya, kalo Venus bolehlah putih).
Oya, dan lagi. Di versi manga, Rei tampak sering telanjang dada,memperlihatkan bagian dadanya yang bidang. Nah di drama, nggak ada tuh. Padahal kan pengen lihat transformasinya si Vic ini (#penonton kecewa). Tapi akting si Vic ini oke punya banget lah. Kedipan matanya itu lho yang saya suka, naughty banget.Entah mengapa walau bandel tapi bikin orang nggak bisa marah sama dia, dengan muka yang such a pure face itu. Trus waktu Qi Luo cerita kalau papanya Ling (waktu itu dia belum tahu) datang dan komentar lukisannya, dan Ling cemburu karena Qi Luo kesengsem dengan orang itu. Wuih akting cemburunya itu oke banget, jauh lebih keren dari manga-nya, kayak beneran gitu. Trus kata-katanya waktu Qi Luo lari, "Yang sangat ingin kumakan itu kau." Aww Aww Aww
Kalo peran si ceweknya, hmm nggak sulit sih nyari cewek seperti Kira/Qi Luo. Kulit putih, body tipis, rambut panjang lurus sepunggung, dan pemalu. Nah kalo ini versi Qi Luo lebih bagus meraninnya. Kalo versi Kira, ehm matanya bulat besar nggak keliatan kalo dia memendam kesedihan, cuma beberapa kali aja komikusnya menggambar wajahnya sedih. Nah kalo Barbie Hsu, sudah punya modal matanya yang sayu dan bibirnya yang kecil turun.Trus bawah matanya yang menghitam itu, saya malah excited. Ini make up artisnya pinter menonjolkan nilai plusnya Barbie Tipe-tipe yang sangat mewakili untuk memerankan seorang gadis yang depresi akibat trauma.

http://i4.ytimg.com/vi/3J4sRGPp3SI/mqdefault.jpg   VS   http://fc00.deviantart.net/fs70/f/2010/199/0/7/Kira_Aso___Mars_by_Mars4ever.png
Kalo  pemain pendukungnya, sebagian besar sih udah cocok saya ya. Saya suka cast Qing Mei, cantik, sexy, ceria dan speak out. Sedangkan si cowok saya malah nggak suka wajahnya kurang ganteng, padahal kan di versi manganya dia itu ganteng, ga kalah ganteng sama tokoh utama. Tapi aktingnya oke punya.
2. Dari segi jalan cerita
Kalau dari segi jalan cerita, wuaaah versi drama kalah jauuuuhhhh...Sangat tidak mendetail. Di versi manga kan semua-mua diceritain tuh, banyak flashbacknya.Betapa dekatnya perasaan Rei dan Sei hingga pertengkaran mereka. Sedangkan di versi drama, cuma sekilas-sekilas saja,terpotong-potong. Jadi di versi dramanya, saya berasumsi kalo Sheng (Sei) itu misterius dan dingin, seperti hanya anak yang manja dan egois saja. Sementara di versi manga, saya bisa berempati dengan Sei.Dan mengapa dia bunuh diri di usia yang semuda itu.
Di versi manga kan, waktu Rei liat patung Mars dicium tuh. Uhhhh so sexy gimana gitcu, kelihatan androgini banget Rei disitu, bukan maho. Dan di versi drama, adegan ini sebenarnya sangat ditunggu-tunggu, tapi yaaahhh...lagi-lagi penonton kecewa. Mungkin karena ini dibikin film jadi agak disensor ya. Dan hal seperti itu sangat tabu untuk dipertontonkan di layar kaca. Kalo di Jepang, hal-hal seperti ini udah lazim ya, mereka memandang hal ini bukan dari segi moralitas tetapi dari segi seni visual. Ouhh memang sangat sexy.
Juga ada cerita dimana Kira mau pinjem baju sama seorang banci, trus malah didandani sama banci itu jadi cantik dan bikin Rei tersepona. Nah di versi drama, NGGAK ADA. Padahal itu lucu sekali ya kalo dihidupkan :D
Mungkin memang di versi drama, semuanya berpusat pada kisah cinta Ling-Qi Luo.Di situ peran Ling sangat apik, sangat naughty,gemes deh ada cowok kayak gitu :p dan Qi Luo,sangat rapuh tetapi sekaligus bijaksana.
Ada chapter yang saya lebih suka di drama daripada di manga. Yaitu saat Ling bertanding di Jepang. Wuuuihh sangat keren saat dia dipepet sampe kelingkingnya bengkok trus dilurusin sendiri. Setelah itu waktu Ling menghindari onderdil motor yang terlempar ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Asyek-asyek kueren sumpah, meskipun itu editan hahaha.
3. The Masterpiece
Saya mau membandingkan lukisan Marsnya. Menurut saya lebih bagus yang lukisan Qi Luo. Matanya menatap tajam bukan bengong (=menerawang) dan tidak kelihatan sedih seperti di lukisan Kira. Versi lukisan Qi Luo, kulitnya  juga tan glowy gitu dan bahunya tegak seperti laki-laki dan paling nggak susunya kotak-kotak ;D, cowok banget menurut saya. Trus backgroundnya juga lebih bagus, kobaran api bukan pita kembang-kembang hehehe. Mungkin memang pengarangnya menyukai yang androgini ya.
 
http://yaradaniaalie.files.wordpress.com/2011/05/mars1.jpg VS http://25.media.tumblr.com/tumblr_lgbtnz4O4d1qdwcumo1_500.jpg
 

1 comment:

  1. Bgus bgt reviewnya kak. Mgkn di dramanya kcemburuan,kasih sayang sma cara ngmongnya mmang masuk bgt dan klihatan smpurna bgt soalnya kan mmang dikehidupan nyata vic sama barbie mmang pacaran jdi aktingnya bner2 natural hehe

    ReplyDelete

Leave Nothing But Comment