Tuesday, February 12, 2013

Berkaca Pada China : Imlek

Di RRC, Pemimpin Itu Memimpin.

Kalimat pendek itu menggemuruh di benak saya. Mungkin ironilah yang membuatnya seperti itu, ironi bangsa Indonesia yang merindukan pemimpin yang tegas dan layak jadi panutan, bukan pemimpin yang hobinya curhat dan marah - marah pada anak SD karena pidatonya ditinggal tidur.
Kalimat itu saya baca dalam sebuah artikel yang memberitakan bagaimana perayaan imlek di RRC yang justru dilaksanakan dengan cara sederhana. Padahal kan Cina itu terkenal budayanya kalo lagi imlekan : berpesta meriah, bermewah - mewahan, nyumet petasan berton - ton, bagi - bagi angpao, makan - makan enak, pokoknya yang wah - wah lah. Presiden  dan calon presiden mereka, Hu jintao  dan Xi Jinping melarang rakyatnya untuk berpesta mewah merayakan imlek. Bahkan Presiden Hu selama beberapa tahun tidak merayakan imlek (Chuxi) bareng keluarganya. Beliau memilih berimlek bareng rakyatnya di tempat - tempat yang rawan bencana. Hal ini tentu saja membangkitkan optimisme dan kecintaan rakyatnya pada sang pemimpin. Dengan adanya ikatan hati yang kuat antara pemimpin dan yang dipimpin inilah, cita - cita bersama akan terwujud. Bersama - sama membangun negara.

 


Xi Jinping, sang penerus, tak kalah elok dengan pendahulunya. Beliau berpendapat bahwa untuk melawan korupsi, salah satunya adalah dengan melarang kemewahan dalam keseharian, baik pejabat maupun rakyat biasa, sipil dan militer. Pada tanggal 4 Desember yang lalu Pemerintah Cina mengeluarkan diktat bagi pejabat sipil dan militer, yang isinya sangat "mengharukan" :

1. Pemerintah China mengeluarkan larangan iklan berisi ajakan untuk membeli  barang mewah di radio dan televisi. Langkah ini diambil oleh pemerintah negeri tirai bambu tersebut untuk mencegah korupsi dan gaya hidup mewah yang menghinggapi masyarakat China, setelah pertumbuhan ekonomi mereka terus meningkat.

Beberapa produk yang iklannya dilarang tayang antara lain jam mewah, koin emas dan minuman keras. Iklan mewah yang tayang di media negara tersebut telah mendorong masyarakat untuk membeli produk tersebut


2. Pemerintah China juga melarang pidato yang bertele-tele dalam rapat . Pidato dalam rapat biasanya menjadi   ajang bagi para penjilat untuk menyanjung Partai Komunis.
Para pejabat diminta hanya menyampaikan isu kunci dan menghindari kalimat kosong.


3. Pemerintah China. juga melarang bunga di kamar hotel para pejabat dan upacara penyambutan di bandara atau stasiun.


Semua pejabat akan makan prasmanan tanpa kemewahan atau alkohol, jamuan mewah, hadiah dan pertunjukkan akan ditiadakan.


4. Selain haram menerima jamuan dan hadiah mewah, para pejabat juga dilarang menggunakan voorijder atau membunyikan sirine saat berkendara.
(diktat ini saya copy paste dari "RRC menuju Budaya Hidup Sederhana", tulisan dari Robert P. Siregar, Kompasiana)

 Karena ini perintah pemimpinnya, maka rakyat pun mematuhi. Beberapa hotel dan public service di wilayah RRC yang hendak merayakan pesta imlek besar - besaran pun urung. Bahkan ada pesta 30.000 dumpling (kayak siomay kali ya), yang urung dilaksanakan. Padahal pesta tersebut sudah jadi kebiasaan tiap tahun. 
Selain itu, pemerintah China juga membudayakan gerakan "Habiskan makananmu", yaitu dilarang menyisakan makanan.Hal ini berasarkan kenyataan bahwa begitu banyak makanan terbuang sia - sia sementara di tempat lain banyak orang kelaparan. Mereka menyerukan kepada restoran dan hotel untuk menyediakan separuh porsi makanan saja pada saat perayaan imlek. Juga menyuruh orang - orang untuk membungkus makanan mereka untuk dibawa pulang jika tak bisa menghabiskan. Padahal, jaman dulu orang tak mau membungkus sisa makanannya karena takut dianggap pelit. Restoran dan hotel pun tidak keberatan dengan perintah ini, karena menurut mereka orang - orang juga banyak yang memesan setengah porsi saja. Dan membawa pulang sisa makanan meringankan pekerjaan mereka dalam hal bersih - bersih :)
See, malu sekali saya pada mereka di RRC. Di Indonesia, yang tingkat kemakmuran masyarakatnya begitu senjang, gaya hidup hedonisme masih marak. Bahkan sudah menjadi kebanggaan dan kebutuhan. Kalo belum punya tas mahal keluaran LV, Hermes, punya mobil ini dan itu, minum di Starbuck, makan di restoran/kafe yang mahal, merasa kehilangan jatidirinya. Merasa bangga masuk dalam kelas "sosialita" yang kebutuhannya hanya berkisar antara pamer dan pamer.  Memangnya bakal ada yang menyanjung apa? Ha ha paling juga yang menyanjung sesamanya saja, yang berpikiran sama sempitnya.
Lalu hang out di tempat makanan, jeprat - jepret, update foto makan malamnya di sosial media, ngrumpi sana - sini ngomongin orang, pesan makanan tapi yang dilahap sejumprit saja. Sisanya?? Berserakan di atas piring. Yang paling kentara tuh waktu acara resepsi kawinan deh. Lihat saja, berapa banyak sisa makanan yang ditinggalkan kalo dikiloin coba? Kalo saja sisa makanan itu sedari awal disisihkan untuk anak - anak yang kelaparan?? Pasti menjadi daging yang akan menghangatkan tubuh kurus kering mereka :'( :'(

  http://4.bp.blogspot.com/-HC8lf_g74mg/Tc38uZZFVjI/AAAAAAAAAro/-yd9po4FlWA/s1600/sisa-makanan-1.jpg   http://ibheonline.blogdetik.com/files/2010/11/anak-kelaparan.jpg
Sebagai penutup, saya berharap rakyat Indonesia sadar. Kapitalisme dan hedonisme sudah sangat mengakar, merenggut keluguan kita dan menghapus rasa empati kita. Membuat kita haus akan kemewahan, yang ujung - ujungnya menghalalkan korupsi dan merampas harta yang bukan hak kita. Sudah, lupakan saja pada sanjungan dan pengakuan orang lain. Itu hanya semu. Hanya akan membuat perasaan kita mati.
Saya tidak merayakan imlek. Tapi saya berharap, saudara - saudara saya etnis Tiong Hoa berbahagia merayakannya. 
 
 

2 comments:

Leave Nothing But Comment