Saturday, June 22, 2013

Make a Friend

Hmm anakku yang paling gede, Rara, usianya sekarang sudah 4 tahun. Bentar lagi masuk TK. Walaupun aku masi bingung mau sekolahin Rara dimana. Entah, aku merasa saja si Rara seperti baru kemarin pagi lahir. Tapi kenapa sekarang tau - tau sudah mau masuk TK?? Kemana saja diriku selama 4 tahun ini. Aku masih menganggapnya bayiku yang mungil.
Di usia sekarang ini, hal yang paling penting untuk anak adalah sosialisasi. Make a friend. Di sekolah yang lama, Rara punya teman. Dia tetanggaan dengan kami, agak jauh.Itupun ibunya teman itu yang inisiatif berkunjung ke rumah. Sejak saat itu Rara selalu minta diantar ke rumah temannya itu. 
Rara sekarang masih di tempat neneknya.Terpaksa cuti sekolah. Kemarin si ibu temannya datang lagi, menanyakan Rara mau sekolah di TK mana, karena temannya itu juga mau dimasukkan ke TK.
Saat itulah aku baru saja dibangunkan. Oh, Rara sudah waktunya masuk TK kah?


Mengenai berteman, duh aku sendiri bukan orang yang gampang berteman. Dulu waktu masih kuliah mungkin aku dicap sebagai si sombong. Kata-kataku pedas, meskipun maksudku hanya becanda.Waktu kuliah, aku hidup di dua komunitas yang sama sekali berbeda. Teman - teman kampus yang sangat sensitif perasaannya (karena kebanyakan temanku adalah cewek). Dan kedua adalah mapa, yang orang2nya bisa bicara dengan SANGAT FRONTAL,meskipun maksudnya baik tapi diucapkan dengan amat buruk. Yaah seperti slogan ini "Kalimat anjing bahasa bunga". Dan karakterku lebih cenderung ke komunitas yang kedua. 
Aku sering merasa bahwa masuk kuliah di biologi seperti masuk kelas keputrian, kita harus punya manner yang baik meskipun itu munafik. Bagaimanapun cewek nggak bisa dihadapi dengan frontal. Dan masa-masa sekolahku sejak masih main sepur - sepuran di TK sampai ketika mempelajari integral/diferensial tidak terlatih untuk itu. Ya, paling tidak aku punya sobat cewe Verra dan Nurprih waktu SMA.Tapi itupun nggak berlanjut lama.Verra sekolah di jekete dan Nur wafat duluan.Dan dua temanku itupun, adalah tipe cewe yang galak.So untuk jadi temen cewek yang feminim dan berperasaan halus, aku nggak akan lolos seleksi.
Alhasil, lulus kuliah aku nggak punya sahabat. YEPP, bener2 nggak punya. Mereka hanya sambil lalu menganggapku. Atau mungkin lebih tragis lagi, sama sekali nggak menganggapku. Entah aku yang kegeeran, tapi pandangan mereka seperti itu. Melihatku dengan curiga, aneh dan penasaran. Aku tak tahu pasti, karena aku nggak pernah berusaha untuk mengetahuinya. Jujur saja, aku sendiri tidak tertarik untuk mengenal mereka lebih dekat. Biarlah aku dengan tempurungku. Jika ada teman cewek biologiku yang membaca ini, pasti akan jengkel dengan diriku. Termasuk beberapa teman yang sebenarnya sempat mencuri hatiku, membuatku merasa memiliki teman di biologi.Iya, ada teman2 baik juga di biologi. Tak usahlah kusebutkan. Mereka pasti tahu siapa yang kumaksud, iya kan temanku? :')

Satu2nya teman yang pernah sangat lengket denganku saat kuliah.. Kita satu angkatan perekrutan di ukm.Dia senior satu tahun diatasku, tapi badannya yang kecil mungil membuatnya jadi si bungsu di angkatan kami. Dia sangat ceria sekaligus juga sensitif, dia yang memercikkan warna-warni di tengah - tengah kekelabuan kami.Dia bisa saja menangis saat orang - orang sibuk, dia pula yang bisa menggerakkan hati kami untuk terus berpetualang, untuk terus merampungkan tugas kepanitiaan kami. Dia menggebu saat orang lain hampir saja menyerah.
Kami beberapa kali saling menginap, curhat sampai pagi. Entah tapi akulah yang merasa paling bisa menguak curahan hatinya. Akulah yang paling bisa merangkulnya, menatap mata beningnya dengan tegar dan memberinya gairah saat aku sendiri sedang dalam saat terendahku.Aku tidak ingin terlihat rapuh saat dirinya butuh aku sebagai sandarannya. Aku menutup rapat rahasianya dan tak akan menceritakannya kepada siapapun meskipun itu bisa membunuhku.Sampai kemudian dia bersama teman - teman yang lain dan aku menarik diri. Meskipun aku mendengar dirinya punya masalah, dia punya teman curhat yang baru.Yang bisa mengajaknya pergi - pergi dan hedon melupakan masalah.Aku masih bisa mendengar keluhan-keluhannya secara tidak langsung, tapi aku diam. Aku tidak bisa berbuat hal yang sama lagi. Aku memilih menyendiri dan membiarkan dia juga orang yang lain melupakanku. 
Saat aku mulai bisa menikmati kesendirian, dia datang lagi dan tertunduk-tunduk menyesali diri.Bahwa dia tidak hadir saat aku paling membutuhkan sahabat. Aku hanya tersenyum, tapi hati menangis mengiyakan. Aku tidak bisa marah lalu bilang Kenapa tidak kau pergi saja??!! Aku bisa berjalan sendiri tanpa apapun atau siapapun. Sahabat pun tidak.
Tidak, aku tidak mengatakannya. Aku sangat menganggapnya sahabat.Entah bagaiman dengan dia, apa aku teman saja atau sahabat pula. Hingga hari ini aku masih menganggapnya sahabat, satu-satunya sahabat. Aku belum punya sahabat lagi.
Teman hanyalah sekedar teman sampai kau menganggapnya sahabat.

1 comment:

Leave Nothing But Comment